Mendaki Gunung Lawu (bagian 3)

 


Minggu, 30 Agustus 2020


Bermalam di pos 5 atau lebih dikenal dengan bulak peperangan memang salah satu opsi terbaik saat itu. Pertama karena aku jalan duluan untuk mencari lokasi camp yang ideal, mau tidak mau agar nantinya kami tidak saling mencari dan mudah dijumpai jadi camping di pos 5 adalah pilihan tepat. Walaupun toh sebenarnya secara pribadi sih aku lebih suka suasana di gupak menjangan. Secara selain lebih datar juga banyak pepohonan meski harus berjalan beberapa saat lagi dari pos 5.

Berkaca dari pengalaman di gunung penanggungan, untuk pendakian kali ini aku tidak terlalu membawa banyak logistik. Aku hanya membawa beberapa mie instan, kopi, susu, roti dan bubur kemasan siap saji. Apalagi di gunung Lawu ada warung legendaris mbok yem yang terkenal dengan menu nasi pecelnya itu. Cuma sekedar berbagi pengalaman saja sih mending bawa mie instan yang model gelasan saja seperti pop mie. Selain lebih praktis berikut wadahnya, air rebusan di nesting juga tidak tercampur dengan mie sehingga lebih hemat air sedikit dan nesting pun masih bersih untuk merebus air selanjutnya. Juga karena titik didih di rumah dan gunung pasti berbeda terkadang masakan mie kita kurang maksimal sehingga mempengaruhi rasanya juga hehehe....

Setelah istirahat kami rasa sudah cukup, pada pukul 05.00 kami mulai summit attack ke puncak gunung lawu hargo dumilah. Hanya berbekal air minum saja kami berlima mulai menyusuri jalur pendakian.Saat kami sampai di gupak menjangan ternyata matahari mulai terbit sehingga suhu dingin mulai tereduksi dan membuat jalur pendakian yang terdiri dari padang sabana indah terlihat jelas.

Beberapa jam dari pos 5 dan melewati pasar dieng yang terkenal dengan aroma mistisnya, kami akhirnya sampai di hargo dalem. Sempat bingung disana karena selain banyak bangunan semi permanen juga banyak cabang jalan. Namun dengan adanya papan petunjuk yang sempat tidak kami cermati dan bertanya pada beberapa pendaki akhirnya kita sampai juga di pemberhentian kami selanjutnya. Ya! warung mbok Yem.

di gupak menjangan

di pasar dieng

di warung mbok yem

Sempat menunggu lama untuk mendapatkan sepiring menu pecel dan teh hangat dikarenakan pendaki yang ada disana sangat banyak, kami menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang ringan sembari beristirahat sejenak. Tak lama kemudian, seorang pria yang membantu mbok Yem menyuguhkan pesanan kami. Hidangan itu pun segera kami santap dengan lahap. Secara rasa bisa jadi sama dengan menu pecel yang lain. Tapi apabila dilihat dari perjuangan perjalannnya bisa jadi itu adalah sepiring pecel yang sangat berharga hahaha....

Satu jam kami di mbok yem. Saatnya untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak hargo dumilah. Jalur ke puncak ini cukup terjal, jadi bagi kami yang sedari tadi agak santai lumayan cukup terkejut hehehe..belum lagi terik matahari juga cukup menyengat. Namun kepalang tanggung. Kami sudah sampai sini maka kami harus menyelesaikan perjalanan ini.Yok bisa yok!

Dan alhamdulillah, tanpa hambatan yang berarti kami  bisa sampai di puncak gunung lawu hargo dumilah. Apa yang kami lakukan? ya jelas foto-foto donk hehehe..

puncak hargo dumilah

kawah mati

Alhamdulillah 

Tak beberapa lama di puncak kita memutuskan untuk turun. Sempat mampir dulu di mbok yem untuk beli snack kami langsung meluncur kembali ke tenda. Di tengah perjalanan ada beberapa pendaki yang bilang kalau kami turun melebihi jam 5 sore maka untuk pengambilan KTP baru bisa dilakukan esok hari (seperti semeru). Wah kaget donk. Kenapa tidak ada info seperti saat kami naik.

Yah karena besok kami sudah harus kerja lagi, maka kami tidak ambil resiko. Kami harus buru-buru sampai di basecamp. Rencana makan siang setelah beres-beres tenda pun kami lewati. Pokoknya turun dulu. 

Nah disini baru terasa bahwa turun gunung itu terkadang bisa lebih susah daripada naiknya. Betul itu! jari kaki istriku bengkak karena harus mengerem kaki saat turun dan belum lagi kalau tersandung akar pepohonan. Begitu pula dengan Niken yang sempat beberapa kali kram. Karena tidak nyaman dengan sepatu yang digunakan istriku memutuskan untuk berganti sandal gunung. Eh gak lama, karena tersandung akar pepohonan sandalnya pun putus. Jadinya aku mengeluarkan sandal japit untuk dikenakannya dengan sedikit modifikasi yaitu di potong bagian belakangnya karena kebesaran.

Mulai pos 3, rombongan terpecah menjadi 3 kelompok. Aku dan istriku, Niken dan Erik berada di paling belakang sedangkan Afif berada di paling depan. Yap karena jomblo dan tanpa beban! dia bertugas ke basecamp dulu untuk melaporkan diri hehehehe.....

Hampir sampai di basecamp, kaki rasanya sudah enggan dibuat untuk melangkah. Entah kenapa? rasanya jalurnya begitu panjang dan melelahkan. Aku dan istriku berhenti di sebuah warung untuk sekedar membeli semangka dan es teh. Eh ternyata disitu juga ada jasa ojek. Ya sudah, karena fisk sudah terkuras habis maka aku dan istriku memutuskan untuk menggunakan jasa ojek saja sampai ke basecamp secara bergantian.

Sembari menunggu giliran ojek dimana istriku duluan. Aku duduk-duduk di warung sembari menikmati suasana. Banyak juga ternyata pendaki yang mampir ke warung tersebut. Tak lama Niken dan Erik pun terlihat. Mereka tak mau kutawari ojek dan memutuskan tetap jalan saja. Oh ya sudah! Pak ojek pun datang dan siap mengantarkanku.

Wow! gak salah naik ojek aku. Bukan gara-gara lebih cepat tetapi jalurnya memutar terlebih dahulu melalui pedesaan. Pemandangan dan suasanya sungguh menyenangkan. Terlebih ternyata jalur ojek itu sama dengan jalur dimana kendaraan travel sempat bermasalah saat naik tanjakan dini hari kemarin. Curam juga sih.

Singkat cerita, saat maghrib tiba kami semua sudah lengkap ada di basecamp. Ternyata kami harus absen satu demi satu anggota pendakian, sehingga KTP baru bisa diberikan setelah anggotanya lengkap. Yah sia-sia sebenarnya Afif harus berlarian kesana kemari dan tertawa hehehehe....

Di parkiran, pihak travel sudah menunggu kami. Setelah selesai cuci kaki, sedikit beli snack dan minuman kami akhirnya berangkat kembali pulang. Tepat jam 12.00 aku sudah sampai di rumah dengan selamat.


Footage Pendakian

Sampai jumpa di kegiatan pendakian selanjutnya. Terima kasih sudah membaca cerita ini. Best Regards.

Rangga P. Wahyudiarta

Komentar

Posting Komentar