Supervisi Akademik sebagai Kepala Sekolah Rakyat

Jujur! selama aku menjadi seorang guru medio 2009 sampai dengan 2025 aku tidak pernah mendapatkan pengalaman sebenarnya dari sebuah kegiatan supervisi akademik yang ideal. Baik dari kepala sekolah ataupun guru senior yang ditunjuk. Boro-boro masuk ke dalam kelas, melakukan observasi mulai dari awal kegiatan pembelajaran sampai akhir dan diakhiri dengan refleksi. Tak jarang mereka-mereka yang telah ditunjuk hanya sekedar menyapa dari daun pintu, ambil foto, kelar perkara. Entah tak tau alasannya.

Oh pernah dink! Sekali! itupun bukan dalam rangka pembelajaran reguler melainkan dalam sebuah program sekolah penggerak dimana aku sebagai komite pembelajar diobservasi pengimplementasian pelaksanaan kurikulum merdeka oleh pelatih ahli sekolah penggerak. Sudah! itu saja!

Memang di satu sisi, hal ini sangat menyenangkan bagiku. Aku tidak perlu "kerja keras" untuk menghadirkan pembelajaran yang ideal dan "textbook" bagi mereka. Namun disisi lain yakni sisi gak enaknya, aku sendiri tidak mengerti bagaimana titik kelemahanku sebagai seorang guru dan apa-apa yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran yang dilakukan kedepannya. Hal yang sangat berbahaya bagi seorang guru.

Oleh sebab itu, demi mewujudkan pembelajaran yang ideal di sekolah yang aku pimpin. Sebagai kepala sekolah aku tidak segan untuk turun langsung melaksanakan kegiatan supervisi akademik. Walaupun sekolah baru dengan segala gerudak-geruduknya, hal ini harus aku lakukan. Walaupun kudu reseschedule beberapa kali.

Berbekal instrumen supervisi akademik yang pernah aku dapatkan di program guru penggerak serta BCKS, aku berusaha untuk melaksanakan kegiatan supervisi akademik ini dengan sebaik-baiknya. Dimulai dengan pra observasi dengan teknik coaching. Dimana aku mencoba memberikan beberapa pertanyaan kepada guru sasaran terkait dengan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, hambatan ataupun gangguan serta usaha mereka dalam mencapai proses pembelajaran yang efektif. Pada teknik coaching ini, aku sebisa mungkin untuk tidak memberikan mereka solusi praktis secara langsung melainkan mencoba menggiring pemikiran mereka sehingga lahir sebuah solusi dari inisiasi mereka sendiri.



Tahap selanjutnya adalah tahap observasi. Pada tahap ini aku ikut masuk ke dalam kelas dan mengikuti proses pembelajaran mulai awal sampai akhir sembari mencatat hal-hal yang perlu untuk ditindaklanjuti. Bila ada kesalahan dalam pembelajaran seperti guru lupa untuk memaparkan tujuan, haram bagiku untuk mengintervensi secara langsung. Biarkan saja. Baru nanti setelah pembelajaran selesai, diajak ke ruang kepala sekolah baru diberikan pengarahan terkait catatan-catatan yang telah didapatkan pada tahap pasca observasi.






Komentar